Loading...

Rabu, 22 Juli 2009

pemanasan global

DAMPAK URBANISASI TERHADAP PERUBAHAN EKOSISTEM DALAM PEMANASAN GLOBAL



Oleh :
bdn




I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bumi ini secara alami adalah sangat kompleks. Konsep Ekosistem telah dikembangkan untuk mengetahui cara yang ditempuh oleh ilmuwan dalam pendekatan studi alami. Dengan demikian itu ekosistem cepat dikenali yang adalah hirarkis, terdiri atas subsistem dan dengan sub-subsistem tersebut banyak orang yang mengenali ruang dan keseimbangan. Proses bagaimana membuat dan menerapkan keputusan manajemen untuk sekala yang luas, sistem hirarkis tampak nyata, terutama dalam sasaran hasil yang akan dicapai dan stakeholders.
Dalam Teori-Sistem secara umum dalam pengambilan keputusan untul menyelesaikan suatau permasalahan dilakukan secara hirarkis demikian juga dalam menejeman ekosistem.Dalam menerapkan konsep sistem memerlukan kerangka konseptual multi objetiv dan multi skala demikian juga dalam pendekatan menejemen ekosistem.
Oleh karena ekonomi yang begitu kompleks, dan interaksi ekologis melibatkan manajemen ekosistems, maka diperlukan suatu proses pengambilan keputusan denagn pendekatan hirarkis. Proses pengambilan keputusan yang rasional merupakan suatu kerangka yang memerlukan banyak informasi dalam ekosistems, memerlukan suatu alat yang ringkas dan bila digunakan berulang-ulang akan sangat efisien. (Website : Research and development of the University of Washington College of Forest Resources; USDA Forest Service, and other cooperators.)
Ekosistem memberikan paradigma terbaik bagi integrasi bagian-bagian biosfir biotik dan abiotik, dan solusi problema-problema riil, serta memberikan teori dasar yang dapat beradaptasi' (Dickinson and K. Murphy ,1998 : Ekosistem: suatu pendekatan fungsional)
Langkah pertama yang banyak dilakukan oleh para perencana dan manager adalah menentukan batas-batas tugas mereka sehingga mereka dapat melakukan suatu pekerjaan yang efektif, sesuai dengan waktu dan sumber daya yang ada. Bagi manajemen lingkungan, unit yang solid dibutuhkan yang menggambarkan struktur dan fungsi alam, meskipun yang sejauh mungkin bekerja lebih menjadi unit biofisika untuk memudahkan pertimbangan dan manajemen sosial, ekonomi, budaya dan aspek interaksi lingkungan manusia yang lainnya.
Selama Revolusi Industri khususnya seperti yang di alami negara berkembang seperti Indonesia, pola pembangunan mengarah kepada suatau kawasan ( kawasan industri, jasa dsb ) sehingga terjadi peningkatan jumlah penduduk atau urbanisasi. Orang dari penjuru daerah datang untuk mengadu nasib / perjuangan hidup di kota-kota seperti Jakarta.
Dalam kondisi seperti ini akan mengakibatkan perubahan ekosistem atau lingkungan , penggunaan sumber daya alam yang berlebihan ( air, listrik,tanah dsb), transportasi meningkat, banyak menggunkan peralatan mesin , alih fungsi lahan dan banyak permasalahan lingkungan yang harus di hadapi. Karbon dioksida di udara hasil dari kegiatan-kegiatan tersebut semakin meningkat.
Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Planet bumi dengan biosfernya lah yang merupakan ekosistem bagi manusia sekarang. Daya dukung ekosistem inilah yang akhirnya menentukan, penyesuaian apa yang harus dilakukan manusia dalam perilaku dan pola organisasi untuk tetap survive.


B. Tujuan

Tujuan dari penulisan ini yaitu ingin mengetahui beberapa indikator dalam perubahan ekologi manusia di lingkungan daerah/kota padat penduduk atau daerah tujuan urbanisasi ( ekosistem ) terhadap pemanasan global.











II. TINJAUAN PUSTAKA


A. EKOLOGI MANUSIA
Ilmu ekologi pada dasarnya menjelaskan hubungan antara organisme -tumbuhan maupun hewan- dengan lingkungannya. Sifat setiap benda hidup dimengerti dari segi hubungannya. Bukan hanya dengan alam secara fisik -termasuk tanah, air dan iklim- tetapi juga dengan benda hidup lain dalam suatu pola saling ketergantungan yang dinamakan ekosistem. Ekosistem-ekosistem digolongkan ke dalam kategori lebih besar yaitu biom yang umumnya diidentifikasikan dari vegetasi yang mencirikannya. Hutan tropis, gurun, padang rumput, merupakan contoh biom. Biom merupakan unit ekologis terbesar di dalam biosfer. Biosfer itu adalah seluruh lingkungan hidup di planet bumi. (Web: OS, dalam artikel Ekologi .)
Pada tahun 1920 di Amerika Serikat, ekologi manusia telah terbentuk secara mapan sebagai bidang kemasyarakatan, walaupun ahli ekologi dunia pada awalnya lebih banyak menggunakan istilah lain. Selanjutnya pada 1950 Amos H. Hawley menerbitkan Ekologi Manusia. suatu Teori Struktur Masyarakat. Ia mempersembahkan buku kepada salah satu bidang yang mempelopori pekerjaan dengan Hawley, R. D. Kemudian pada tahun 1961, Robert E. Markir dan Ernest W. Burgess. Hawley menyokong pekerjaan lain kepada pengembangan bidang tersebut . mengenai Belajar Ekologi Manusia, telah diterbitkan oleh George A. Theodorson,( Studies in Human Ecology, was published (edited by George A. Theodorson).
Dalam 1970, di Sekolah E. Taman Dan Hawley Chicago Robert William R. Catton Dan Riley E. Dunlap membangun suatu pekerjaan lebih awal. Satu gagasan utama Catton Dan Dunlap adalah paradigma baru dari Paradigma Durkheimian yang menjelaskan fakta sosial hanya dengan fakta sosial. Sebagai pengganti, mereka mencakup fakta phisik dan fakta biologi sebagai variabel mandiri yang mempengaruhi struktur sosial dan gejala sosial lain. Perubahan paradigma ini dapat diuraikan sebagai perubahan dari suatu pandangan manusia kemasyarakatan klasik exemptionalism sebagai suatu pandangan baru ( paradigma ekologis baru) . Manusia tidak lagi dilihat sebagai suatu jenis pengecualian yang menggunakan kultur untuk menyesuaikan ke lingkungan baru dan perubahan lingkungan, lebih mempengaruhi variabel sosial dibanding dengan variabel biologi, tetapi ketika satu jenis saling berhubungan lebih banyak ke luar dengan orang dari suatu lingkungan dibatasi secara alami ( University of Alberta, Dept. of Human Ecology )
Ekologi Manusia memandang masyarakat manusia dan populasi manusia sebagai bagian dari ekosistem bumi. Didalam pandangan ini, sosiologi akan hanya sebagai suatu sub-discipline ekologi. Ekologi Manusia dengan berbagai sub-discipline ilmu geografi, ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, atau ekologi.
Ekologi Manusia adalah suatu inter disiplin ilmu yang menerapkan berbagai bidang menggunakan suatu pendekatan holistic untuk membantu masyarakat memecahkan permasalahan dan meningkatkan potensi manusia di dalam lingkungan dekat mereka- pakaian mereka, keluarga, rumah, dan masyarakat. Ahli ilmu lingkungan hidup Manusia mempromosikan kesejahteraan/ kesehatan individu, keluarga-keluarga, dan masyarakat melalui pendidikan, pencegahan, dan empowerment.
Ekologi Manusia tidak hanya menyelidiki pengaruh manusia terhadap lingkungan mereka, tetapi juga pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia, dan strategi pendekatan mereka untuk memahami pengaruh itu lebih baik. Oleh karena itu, ekologi manusia adalah suatu metodologi seperti suatu area riset. Hal ini merupakan suatu cara berpikir tentang dunia, dan suatu konteks di mana kita menggambarkan jalan dan pertanyaan untuk menjawab pertanyaan itu alami ( University of Alberta, Dept. of Human Ecology )

B. URBANISASI DAN DAMPAKNYA
Pertambahan jumlah penduduk kota berarti juga peningkatan kebutuhan ruang. Karena ruang tidak dapat bertambah, maka yang terjadi adalah perubahan penggunaan lahan, yang cenderung menurunkan proporsi lahan-lahan yang sebelumnya merupakan ruang terbuka hijau. Pada saat ini hanya 1,2% lahan di dunia merupakan kawasan perkotaan, namun coverage spasial dan densitas kota-kota diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang. PBB telah melakukan estimasi dan menyatakan bahwa pada tahun 2025, sekitar 60% populasi dunia akan tinggal di kota-kota.
Pada tahun 2030, diperkirakan 60% penduduk dunia akan tinggal di kawasan perkotaan. Ini merupakan tantangan yang cukup berat. Pertambangan penduduk perkotaan menuntut adanya efisiensi dalam sistem ekonomi, termasuk efisiensi dalam intensitas penggunaan ruang. Pembangunan pencakar langit dengan kepadatan yang tinggi merupakan salah satu bentuk efisiensi penggunaan ruang. Penggunaan teknologi bahan yang kedap air untuk meningkatkan daya tahan bangunan, adalah bentuk lain dari efisiensi ekonomi di perkotaan. Padahal, tingkat kepadatan yang tinggi dan penggunaan bahan-bahan kedap air dengan kapasitas panas yang tinggi merupakan faktor-faktor yang memberikan kontribusi besar terhadap pemanasan di perkotaan. Respon yang sering muncul terhadap gejala pemanasan ini adalah adanya peningkatan penggunaan energi untuk pendingin ruangan, yang memberikan respon balik dan memperkuat gejala pemanasan di perkotaan ( Corry Jacub, Staf Pengajar FTSP UII Yogyakarta ,Mahasiswa Program S3 )
Urbanisasi sebagai fenomena yang terjadi di berbagai belahan dunia, merupakan kontributor terhadap terjadinya perubahan iklim. Ini karena dalam proses urbanisasi terjadi perubahan karakteristik landscape, dari yang bersifat alami menjadi artifisial. Dalam hal ini, berbagai kebijakan yang ditempuh dalam perencanaan dan perancangan kota dan lingkungan, perlu mempertimbangkan perubahan aspek-aspek iklim yang akan terjadi. Penetapan pengembangan kawasan permukiman, kawasan industri, atau pun kawasan budidaya lainnya, tentunya akan memberikan berbagai konsekuensi terhadap kondisi atmosfer di atasnya
Sebagai dampak dari Urbanisasi dan industrialisasi yaitu penumpukan penduduk memerlukan dukungan jasa lingkungan yang amat besar, pencemaran air dan udara meningkat. ( Bindu N. Lohani dan Alastair M. North (1984): Environmental Quality Management. pp.8-9, South Asian Publishers, New Delhi. India).




C. IKLIM PERKOTAAN
Pada saat ini telah diakui bahwa iklim perkotaan memiliki karakteristik yang berbeda dengan iklim kawasan di sekitarnya yang masih memiliki unsur-unsur alami cukup banyak. Perubahan unsur-unsur lingkungan dari yang alami menjadi unsur buatan menyebabkan terjadinya perubahan karakteristik iklim mikro. Berbagai aktivitas manusia di perkotaan, seperti kegiatan industri dan transportasi, mengubah komposisi atmosfer yang berdampak pada perubahan komponen siklus air, siklus karbon dan perubahan ekosistem. Selain itu, polusi udara di perkotaan menyebabkan perubahan visibilitas dan daya serap atmosfer terhadap radiasi matahari. Radiasi matahari itu sendiri merupakan salah satu faktor utama yang menentukan karakteristik iklim di suatu daerah.
Perubahan-perubahan tersebut sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam perancangan dan perencanaan kota. Namun di sisi lain, pemahaman mengenai urbanisasi dan dampaknya pada sistem iklim-bumi belum lengkap. Dan dalam sistem perencanaan pembangunan perkotaan di Indonesia, unsur iklim masih dianggap sebagai elemen statis, dimana diasumsikan tidak ada interaksi timbal balik antara iklim dengan perubahan guna lahan. Data-data iklim lebih sering dipergunakan sebagai data yang mendukung pernyataan kesesuian lahan dan lokasi bagi pengembangan fungsi sebuah kawasan, terutama untuk pengembangan kawasan pertanian. Namun dalam perancangan dan perencanaan kawasan perkotaan di Indonesia, hampir tidak pernah dipertimbangkan bahwa perubahan guna lahan yang direncanakan akan memberikan implikasi yang sangat besar terhadap sistem iklim.
Iklim perkotaan merupakan hasil dari interaksi banyak faktor alami dan antropogenik. Polusi udara, material permukaan perkotaan, emisi panas anthropogenik, bersama-sama dengan faktor alam menyebabkan perbedaan iklim antara kota dan area non perkotaan.
Iklim suatu kota dikendalikan oleh banyak faktor alam, baik pada skala makro (seperti. garis lintang) maupun pada skala meso (seperti topografi, badan air). Pada kota yang tumbuh dan berkembang, faktor-faktor baru dapat mengubah iklim lokal kota. Guna lahan, jumlah penduduk, aktivitas industri dan transportasi, serta ukuran dan struktur kota, adalah faktor-faktor yang terus berkembang dan mempengaruhi iklim perkotaan (Gambar 1).

Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim perkotaan
(Sumber: Sebastian Wypych, 2003 dalam Indah Susanti dan Teguh Harjana, Aspek Iklim dan Perencanaan Tata Ruang )
D. PEMANASAN GLOBAL
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Penyebab pemanasan global antara lain : Efek rumah kaca, Efek umpan balik, Variasi Matahari, dan Peternakan (konsumsi daging). Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca. (Artiekel Web : Pemanasan Global,. Intergovernmental Panel on Climate Change –IPCC diakses pada tanggal 19 Juni 2009 )




























III. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

Sejak terjadi revolusi industri di dunia ini maka penggunaan teknologi semakin meningkat. Kemajuan teknologi tersebut, telah mendorong proses industrialisasi. Untuk menyokong industrialisasi dalam suatu kawasan/kota diperlukan tenaga kerja yang lebih banyak serta sektor-sektor jasa pendukung lainya. Dengan demikian manusia segera berdatangan untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka. termasuk kehidupan yang baik, kekebasan dan pilihan, kesehatan, hubungan sosial yang baik dan keamanan.
Sebagai dampak dari urbanisasi dan industrialisasi yaitu penumpukan penduduk, hal ini memerlukan dukungan jasa lingkungan yang amat besar, pencemaran air dan pencemaran udara meningkat. Banyak kota-kota besar di dunia ini merupakan daerah tujuan urbanisasi yang jumlah penduduknya sangat padat, seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainya di negeri ini. Disisi lain banyak permasalahan yang timbul akibat penumpukan penduduk yang berkaitan lingkungan antara lain :
A. Meningkatnya pengunaan sumber daya :
1. Sumber daya biologi :
Peningkatan jumlah penduduk akan memepengaruhi penyedian bahan pangan. Eksploitasi bahan pangan terus diupayakan melalui metoda intensifikasi sehingga akan merubah ekosistem diwilayahnya.
2. Air :
Sumber daya air sangat diperlukan dalam kehidupan ekosistem di daerah padat penduduk. Seperti di Jakarta pengambilan air tanah dilakukan secara tidak terkendali sehingga terjadi peresapan air laut masuk ke wilayah daratan. Dalam kondisi demikian ekosistem di daerah tersebut akan rusak.
3. Minyak Fosil :
Dari energi fosil tersekap dalam tanah, terbentuk jutaan tahun lamanya. Jika ia digali dan terlepas emisinya ke atmosfir, akan memberikan tambahan karbon baru yang semula tersekap dalam perutbumi. Sifatnya permanen. Tak bisa dipertukarkan dengan karbon dari hutan. Besarnya intensitas emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor selain ditentukan oleh jenis dan karakteristik mesin, juga sangat ditentukan oleh jenis BBM yang digunakan. Seperti halnya penggunaan LPG, akan memungkinkan pembakaran sempurna dan efisiensi energi yang tinggi.
4. Industrialisasi
Industri yang membongkar simpanan karbon dalam perut bumi, mengolahnya hingga bisa dikonsumsi sebagai bahan bakar dan melepas emisi karbonnya ke atmosfir. Industri tambang adalah media sekaligus pengguna bahan bakar energi fosil. Sekitar 10% energi dunia, dipakai oleh industri pertambangan. Emisi GRK dari industri tambang dimulai dari kegiatan alih fungsi dan degradasi lahan, akibat penggalian bahan tambang dan pembangunan fasilitas pabrik, penggunaan bahan bakar dalam proses penambangan, pembakaran energi saat proses penambangan – seperti gas flare. Sementara dari kegiatan hilir, emisi GRK dimulai dari distribusi hasil tambang dan konsumsinya sebagai energi, baik minyak, gas dan batubara. Penggunaan bahan bakar untuk transportasi dan industri penyumbang emisi GRK tertinggi. Jangan lupa, proyek-proyek pengerukan bahan tambang dan bahan bakar fosil ini juga disponsori oleh

5. Listrik :
Di kota koata besar yang padat penduduk banyak dijumpai alat pendingin ruangan/ AC, lampu-lampu listrik dan segala barang elektronika yang memerlukan listrik turut mnyumbang adanya peningkatan suhu .

B. Meningkatnya kerusakan ekosistem :
1. Alih fungsi lahan :
Dengan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan maka diperlukan ruang untuk pemukiman yang lebih besar termasuk didalam pengembangan industrialisasi. Dalam pelaksanaanya banyak alih fungsi lahan seperti sawah digunakan untuk perumahan atau kawasan industri
2. Pencemaran :
Akibat penggunaan air untuk berbagai keperluan secara besar - besaran maka debet Air tidak lagi sanggup mengimbangi dari keperluanya, demikian juga Udara yang berada di atasnya tersa sangat kontor yang disebabkan oleh pembuangan gas emisi ( CO2 )
Dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas akan berdampak buruk terhadap pemanasan global. Penyebab pemanasan global antara lain : Efek rumah kaca, Efek umpan balik, Variasi Matahari, dan Peternakan. (Artikel Web: Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change -IPCC.),



























IV. SOLUSI DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Sebagai akibat dari pemanasan global anatara laian : Meningkatnya suhu udara, naiknya suhu di bumi dan naiknya paras muka air laut. Menurut para ahli lingkungan diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut. Berkaitan dengan isu pemanasan global ini maka perlu dilakukan pemecahan masalah khususnya untuk di daerah perkotaan padat penduduk antara lain sebagai berikut:
A. Pendekatan Manajemen Ekosistem
1. Ekosistem dikelola dalam batas kemampuan fungsinya
Pengelolaan ekosistem untuk kebutuhan manusia harus memperhatikan daya dukung, dan daya lentingnya. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan mendukung kehidupan yang ada didalamnya. Sedangkan daya lenting adalah kemampuan lingkungan untuk pulih atau kembali ke keadaan awal.
2. Dilaksanakan menurut ruang dan waktu yang tepat
Pendekatan ekosistem harus dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat agar pendekatan efektif, valid dan realibel. Efektif adalah melakukan sesuatu yang tepat. Sedangkan valid berarti terukur sesuai dengan kenyataan, dan realibel adalah memiliki komposisi dan batasan yang sama pada semua dimensi waktu.
3. Dicapai sebagai upaya berjangka panjang.
Faktor politik & ekonomi, dalam menentukan penggunaan sumber, mempunyai kecenderungan pengaruh terhadap nilai-nilai jangka pendek. Sebaliknya faktor-faktor ekologi selalu berkepentingan dengan nilai-niliai jangka panjang yang seringkali tidak nampak pengaruhnya dalam jangka pendek.
Harus diingat bahwa setiap pembinaan sumber alam akibat-akibat jangka pendek dan jangka panjang, dan oleh karena itu harus kita usakan mengenal aspek-aspek itu sehingga pilihan yang harus dibuat didasarkan atas pengetahuan yang menyeluruh terhadap masalah itu.
Didalam mencapai keputusan penggunaan sumber alam, pertimbangan-pertimbangan jangka pendek seringkali lebih berpengaruh, tetapi harus diusahakan jaminan bahwa pelaksanaan keputusan itu tidak mengarah kepada kerusakan yang tak dapat diperbaiki, dari sumber alam yang sedang dibangun. Contoh: pertambangan permukaan dapat menghancurkan kemampuan produktivitas tanah untuk usaha-usaha pertanian dalam jangka yang sangat lama. Dalam hal ini, perhatian perlu diarahkan agar sebagian income dari usaha pertambangan dilaihkan pada pembiayaan untuk menyelamatkan areal lain dan memulihkan areal yang diekploitir itu.
B. Strategi Pendekatan Ekosistem Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Langkah pelaksanaan pendekatan ekosistem untuk pembangunan berkelanjutan
Langkah 1 : menetapkan para pelaku utama, menetapkan batasan wilayah ekosistem, dan mengembankan hubungan diantaranya,
Langkah 2 : karakterisasi dari struktur dan fungsi ekosistem, dan menetapkan mekanismenya untuk mengelola dan memantaunya,
Langkah 3 : mengenali kepentingan ekonomi yang akan berpengaruh kepada ekosistem dan penduduknya,
Langkah 4 : menentukan dampak yang mungkin terjadi dari ekosistem kepada ekosistem sekitarnya,
Langkah 5 : menentukan tujuan jangka panjang, dan cara yang fleksibel untuk mencapainya.
Komponen dari setiap langkah pengelolaan dengan pendekatan ekosistem: 1).Tujuan pengelolaan (air, lahan, dan biota) adalah pilihan masyarakat,
2). Dilaksanakan menurut ruang dan waktu yang tepat,
3). Mempertimbangkan semua informasi yang relevan, termasuk pengetahuan ilmiah dan kearifan tradisional, inivasi dan praktek lapangan,
4). Memasukan semua pelaku di semua sektor dan disiplin ilmu. (Web: www.kompas.co.id, Pembangunan Berkelanjutan Makin Mendesak, 11/03/06)





V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Sebagai dampak dari urbanisasi dan industrialisasi yaitu penumpukan penduduk yang memerlukan dukunganjasa lingkungan yang amat besar, pencemaran air dan pencemaran udara meningkat
2. Pencemaran udara terutama CO2 di kota padat penduduk ( daerah tujuan urbanisasi ) mempengaruhi ekosistem utamanya terhadap pemanasan global. Pemanasan global antara lain disebabkan oleh : Efek rumah kaca, efek umpan balik, variasi matahari dan peternmakan.
3. Dampak dari pemanasan global anatara lain sebagai berikut:
a. Iklim Mulai Tidak Stabil
b. Peningkatan Permukaan Laut
c. Suhu Global Cenderung Meningkat
d. Gangguan Ekologis
e. Dampak Sosial Dan Politik
4. Dalam memecahkan berbagai masalah di kota padat penduduk hendaknya melalui pendekatan manajemen ekosistem.

B. Saran.
1. Kebijakan yang ditempuh dalam perencanaan dan perancangan kota dan lingkungan, perlu mempertimbangkan perubahan aspek-aspek iklim yang akan terjadi. Penetapan pengembangan kawasan permukiman, kawasan industri, atau pun kawasan budidaya lainnya, tentunya akan memberikan berbagai konsekuensi terhadap kondisi atmosfer di atasnya. Oleh karena itu, para ahli klimatologi ataupun meteorologi perlu dilibatkan dalam proses perencanaan dan perancangan kota


Contact person:
Email : bdn926@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Muara Bungo, Jambi, Indonesia