Loading...

Kamis, 17 Juni 2010

STUDI HUBUNGAN KUALITAS AIR DENGAN KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DI SUNGAI BATANG BUNGO KABUPATEN BUNGO



Oleh: Budiyono,A.Pi,M.Si.
Staf Pengajar : Fak. Perikanan Universitas Muara Bungo
(Silahkan dikutip,asal menyebutkan sumbernya)

RINGKASAN

Perairan Sungai Batang Bungo merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Bungo dan merupakan  bentuk perairan yang  terbuka dan panjang. Hasil observasi di lapangan bahwa saat ini telah mengalami beberapa tekanan akibat dari berbagai kegiatan seperti berkembang penggalian pasir baik menggunakan  peralatan mesin ( mesin diesel dan pompa keong ) dan Penambangan Emas Tanpa Izin ( PETI ).Diduga sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis ikan di dalam perairan tersebut. Hasil studi di Propinsi Jambi menunjukkan jenis ikan tawar yang ada berjumlah 131 species yang tercakup ke dalam 14 ordo dan 25 famili.
Tujuan penelitian ini antara lain : 1). Identifikasi  jenis ikan yang tertangkap di wilayah Sungai Batang Bungo pada lokasi yang terkena dampak dan tidak terkena dampak dari penambangan emas dan pasir.3).Analisis Indeks Keanekaragaman jenis ikan, Keseragaman, Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif dan Frekuensi Kehadiran.
Metode penentuan stasiun dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu penentuan stasiun pengamatan dilakukan berdasarkan tujuan. Untuk pengambilan sampel air,sedimen dan ikan telah ditetapkan terhadap empat Stasiun. Untuk mengetahui nilai parameter fisika dan kimia perairan, maka sampel air diperiksa di Laboratorium.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1). Keanekaragaman jenis ikan hasil penelitian di empat stasiun Sungai Batang Bungo ditemukan sebanyak 25 jenis ikan dari  16 genus dan 9 famili, 2) Nilai indeks keanekaragaman jenis ikan pada masing-masing stasiun yakni: Stasiun I Desa Tebat berkisar  2,03 -2,08  , Stasiun II Desa Tanjung Agung  1,45, Stasiun III Kelurahan Sungai Pinang 0,89 – 0,91 dan Stasiun IV Kelurahan Tanjung Gedang 1,36 -1,61 3) Nilai Keseragaman ( E ) sebesar 0.433 pada Stasiun I Tebat memiliki keseragaman populasi yang tinggi dibanding stasiun lainya dan Nilai Indeks Keragaman Simpson ( D ) dari keempat stasiun. 0.0007- 0.0293 sedangkan Nilai Indeks Kesamaan ( IS ) antar Stasiun tidak ditemukan spesies yang Sangat Mirip.. Rata-rata antar stasiun Mirip dan Tidak Mirip, 5) Jenis  ikan  yang  memiliki  Kepadatan Populasi  tertinggi dengan nilai 0.007600 individu / m2  yakni ikan Malis (Dangila ocellata, Weber & Beaufort,1916) dan Kepadatan Relatif tertinggi pada Ikan  Malis (Dangila ocellata, Weber & Beaufort,1916) sebesar 21,42857  % sedangkan Frekuensi Kehadiran tertinggi yakni ikan Baung (Mystus, sp), Palau (Osteochillus hasselti ,C.V) Lampam (Puntius schwanefeldi, Blkr), Malis (Dangila ocellata, Weber & Beaufort,1916 ) dan Masai (Rasbora argyrotaenia ,Bleeker,19850)  masing-masing 100 %, 6).Nilai korelasi (r) pH 0,880 memiliki tingkat hubungan (positif) Sangat Kuat  terhadap nilai Indeks Keanekaragaman Ikan (Hi), demikian pula nilai (r)  TSS   -0,803 memiliki tingkat hubungan (negatif) sangat kuat 7). 



  1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kabupaten Bungo merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jambi mempunyai luas Perairan umum seluas 6.907 ha yang terdiri dari perairan sungai, rawa, danau/oxbow, chek dam dan genangan air lannya. Beberapa sungai utama yang ada di Kabupaten Bungo antara lain: Sungai Batang Jujuhan, Sungai Batang Tebo, Sungai Batang Bungo, Sungai Batang Senamat, dan Sungai Batang Pelepat (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bungo, 2009). 
Perairan Sungai Batang Bungo merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Bungo dan merupakan  bentuk perairan yang  terbuka dan panjang mencapai kurang lebih 50 km. Hasil observasi di lapangan bahwa bagi masyarakat petani nelayan sungai ini dimanfaatkan untuk usaha penangkapan ikan dan  budidaya perikanan. Disamping itu bagi masyarakat umum disepanjang pinggiran Sungai Batang Bungo dimanfaatkan untuk mencuci, mandi dan jamban ( MCK ) serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Sedangkan untuk masyarakat yang  jaraknya jauh dari perairan Sungai Batang Bungo juga digunakan untuk penyedia air minum yang dikelola oleh  PDAM dan dialirkan kerumah-rumah penduduk dan jasa transportasi.
Beberapa studi yang agak komprehensif tentang potensi perairan umum di pulau terbesar Indonesia ini kebanyakan berupa inventarisasi keanekaragaman species khususnya species ikan air tawar (Robert, 1989; dan Kottelat dkk, 1996 dalam Ardianor dan Gumiri, 2006 ). Selanjutnya Sudrajat, et al, 2009 mengemukakan bahwa hasil studi di Propinsi Jambi menunjukkan jenis ikan tawar yang ada berjumlah 131 species yang tercakup ke dalam 14 ordo dan 25 famili.
Sedangkan informasi tentang ekologi perairan umum di Jambi  masih sangat terbatas. Namun demikian, khusus untuk Provinsi Jambi, penelitian tentang ekologi perairan umum sudah dimulai sejak tahun 1997 sd 2003 melalui proyek Dinas Perikanan Provinsi Jambi yang melibatkan antara lain LIPI. Secara umum Penelitian yang terpublikasi masih dianggap sangat kurang mengingat data-data dasar yang bersifat time series atau tahunan masih belum dilakukan secara intensif. 

1.2. Rumusan Masalah
Dengan melihat uraian  tersebut di atas maka dapat  dirumuskan bahwa terdapat beberapa permasalahan utama dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungan di Sungai Batang Bungo antara lain sebagai berikut : 1) Belum diketahuinya jenis-jenis ikan yang hidup dan bertahan di sungai Batang Bungo  2) Belum diketahuinya nilai Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, Kesamaan, Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif dan Frekuensi Kehadiran
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1)      Identifikasi  jenis ikan yang tertangkap di wilayah Sungai Batang Bungo pada lokasi yang terkena dampak dan tidak terkena dampak dari penambangan emas dan pasir.
2)      Analisis Indeks Keanekaragaman jenis ikan, Keseragaman, Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif dan Frekuensi Kehadiran.
3)      Analisis tingkat hubungan parameter kualitas air terhadap  keanekaragaman jenis ikan dari pengaruh penambangan emas dan pasir di wilayah Sungai Batang Bungo.

1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
1)      Beberapa faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis ikan di daerah penelitian sebagai dasar pembuatan kebijakan dalam pengelolaan Sub Sub DAS Batang Bungo serta pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.













2.TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekologi Sungai
Perairan umum air tawar alami dikenal sebagai sungai , rawa dan danau. Perairan sungai merupakan suatu perairan yang didalamnya dicirikan dengan adanya aliran air yang cukup kuat, sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir ( perairan lotik ). Perairan sungai biasanya keruh, sehingga penetrasi ke dasar sungai terhalang ( Boldman dan Horne, 1983 ).  Pada perairan sungai biasanya terjadi percampuran massa air secara menyeluruh dan tidak terbentuk stratifikasi vertikal kolom air seperti pada perairan lentik. Sungai dicirikan oleh arus yang searah dan relatif kencang, sungai sangat dipengaruhi oleh waktu, iklim dan pola aliran air.  Kecepatan arus , erosi dan sedimentasi merupakan fenomena yang umum terjadi di sungai sehingga kehidupan flora dan fauna pada sungai sangat dipengaruhi oleh ketiga variabel tersebut ( Effendi, 2003 )
Sungai secara spesefik terbagi ke dalam dua ekosistem yaitu perairan yang berarus cepat dan perairan yang berarus lambat. Sungai yang mengalir cepat dikarateristikan oleh tipe berbatu dan berkerikil, sedangkan sungai yang mengalir lambat dikarateristikan dengan tipe subtrat berpasir dan berlumpur. Sungai-sungai di Jambi dapat digolongkan ke dalam tipe Sungai Permanen yaitu sungai yang airnya terisi dan mengalir sepanjang tahun. Walaupun terjadi musim kemarau yang panjang sungai-sungai di Jambi tidak pernah kekeringan sampai tidak ada airnya ( Saputra, 2004 ).

2.2.  Ekologi Ikan
Ikan merupakan hewan vertebrata dan dimasukkan ke dalam filum Chordata yang  hidup  dan  berkembang  di  dalam  air  dengan  menggunakan  insang.  Ikan mengambil oksigen dari lingkungan air di sekitarnya. Ikan juga mempunyai anggota tubuh  berupa  sirip  untuk   menjaga  keseimbangan  dalam  air  sehingga  ia  tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh angin ( Sumich, 1992 ).
Tubuh ikan terdiri atas caput, truncus dan caudal. Batas yang nyata antara caput dan truncus disebut tepi caudal operculum dan sebagai batas antara truncus dan ekor disebut anus. Kulit terdiri atas dermis dan epidermis. Dermis terdiri dari jaringan pengikat yang dilapisi dari sebelah luar epitelium. Diantara sel-sel epitelium terdapat kelenjar uniseluler yang mengeluarkan lendir yang menyebabkan kulit ikan menjadi licin ( Radiopoetra, 1978 dalam  Siagian, C, 2009 ).
Ikan merupakan vetrtebarata yang paling banyak jumlahnya, yang menghabiskan seluruh hidupnya pada perairan. Sekarang ini ada sekitar 20.000 sampai 30.000 species yang telah diketahui, hampir setengah dari jumlah vertebrata. Kebanayakan ikan adalah ikan bertulang sejati terutama teleostei dan sisanya 50 ikan jawles  dan 800 species ikan bertulang rawan ( Marshall dan Bone, 1982 ).
Penyebaran ikan di perairan laut sebanyak 51% dan perairan tawar 48% dan 1% bergerak dari lingkungan air laut ke perairan air tawar dan sebanliknya. Banyaknya ikan di air tawar disebabkan daerahnya tersisolasi sehingga mempunyai kesempatan yang besar untuk membentuk species baru sedangkan pada perairan laut saling berhubungan satu sama lain sehingga kondisinya hamper sama sehingga pembentukan species baru lebih kecil. Kebanyakan species ikan ditemukan pada lingkungan yang lebih panas dimana perubahan temperature tahunan kecil (Moyle dan Cech, 1989).
Ukuran ikan bervariasi mulai dari yang kecil sebesar 15 mm seperti pada ikan Goby (Eviota sp) sampai dengan yang besar seperti ikan Hiu yang dapat mencapai 21 meter dengan berat sekitar 25  ton atau lebih. Kebanyakan ikan berbentuk torpedo, pipih dan ada yang berbentuk tidak teratur ( Marshall dan Bone, 1982 ).
Salah satu ciri ikan yang khas yaitu letak vertikal sirip ekor yang sama pada setiap ikan umumnya, kecuali pada ikan Paus. Cara   perkembangbiakan   kebanyakan   bertelur   (ovivar)   tetapi   beberapa diantaranya juga menghasilkan anak yang menetas ketika Masih berada dalam tubuh induknya  (ovovipar),   bahkan   ada  yang  melahirkan  anak  berupa  individu  baru (vivipar). Tubuh ikan asal munlanya tertutup oleh suatu lapisan lempeng-lempeng tulang yang pada banyak species sedikit demi sedikit berkurang sehingga tubuh lebih lentur, kemudian sama sekali tidak bersisik atau tertutup olehsuatu lapisan sisik yang tipis dan kecil ( Ensiklopedia Indonesia )     

2.3. Penggolongan Ikan

Lalli dan Parron, 1993 dalam Siagian, C, 2009, membagi ikan menjadi tiga kelas berdasarkan taksonomi, yaitu :
a.       Kelas Agnatha yang meliputi ikan primitive seperti Lamprey. Kelompok ikan ini berumur 550 juta tahun yang lalu dan sekarang hanya tinggal 50 species. Ikan ini tidak memiliki sirip-sirip perpasangan tetapi memiliki stau atau  dua  sirip punggung dan satu sirip ekor.
b.      Kelas   Chondrichthyes   memiliki   ciri-ciri   adanya   tulang   rawan   dan   tidak mempunyai sisik. Kelas ini juga termasuk kelas yang primitif dengan umur 450 juta  tahun  yang  lalu  dan  sekarang  hanya  mempunyai  300  spesies.  Misalnya seperti  ikan  Pari  dan  Hiu  dan  biasanya   makanannya  adalah  plankton  dan organisme bentik.
c.       Kelas Osteichthyes meliputi ikan Teleostei yang merupakan ikan tulang sejati. Kelompok  ini  merupakan  ikan  yang  terbesar  jumlahnya  dari  seluruh  ikan, di mana melebihi 20.000 spesies dan ditemukan pada 300 juta tahun yang lalu.

2.4. Karateristik Ikan di Perairan Sungai
Wooton, 1991, mengatakan bahwa, adanya hubungan positif antara kekayaan jenis dengan suatu area yang ditempati. Keanekaragaman Jenis Ikan Sungai tergantung pada dua faktor. Pertama, peningkatan jumlah mikro habitat akan dapat meningkatkan keragaman. Kedua, area yang lebih luas sering memiliki variasi habitat yang lebih besar dibanding dengan area yang lebih sempit. Selanjutnya Kottelat et al, 1996 dalam Yustina, 2001 menambahkan, semakin panjang dan lebar ukuran sungai semakin banyak pula jumlah jenis ikan yang menempatinya
Keanekaragaman dan kelimpahan ikan juga ditentukan oleh karakteristik habitat perairan. Karakteristik habitat di sungai sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai. Kecepatan aliran tersebut ditentukan oleh perbedaan kemiringan sungai, keberadaan hutan atau tumbuhan di sepanjang daerah aliran sungai yang akan berasosiasi dengan keberadaan hewan-hewan penghuninya (Ross 1997 dalam Yustina, 2001).
3.      METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Pengamatan                                 
Penelitian ini dilakukan di Sungai Batang Bungo, anak Sungai Batang Tebo dan anak Sungai Batang Hari. Untuk mengetahui kualitas air di lokasi penelitian dilakukan pengambilan sampel air (contoh) dan  untuk mengetahui jenis ikan yang diteliti dilakukan penangkapan ikan pada 4 stasiun yang telah ditentukan. Sedangkan waktu pengambilan sampel air dilakukan pada waktu pagi hari pada pukul 07.30 WIB sampai dengan selesai.
3.2. Alat dan Bahan Penelitian
Peralatan yang digunakan untuk penelitian ini yaitu : alat tulis, timbangan elektrik dan alat pengukur kualitas air : termometer, sechi disk, bola hanyut, tali, meteran, pH meter, DO meter , dan tabung sampel air ( Tipe Ruttner ) volume 2 (dua) liter yang dapat diatur pada kedalaman berapa sampel air ingin diambil serta botol sampel untuk parameter TSS, TDS, BOD, COD, DO, total Phospat sebagai P, Nitrat sebagau N, Besi terlarut, Nitrit sebagai N, Belerang sebagai H2S.
Sedangkan untuk menangkap sampel ikan digunakan alat tangkap jaring, jala tebar, dan pancing, penggaris, kamera, Global Positioning System (GPS) untuk menentukan posisi stasiun pengamatan.  Disamping itu untuk mengolah data diperlukan seperangkat “ Personal Computer “ atau PC. Sedangkan bahan yang diperlukan yaitu. bahan-bahan kimia untuk analisis kualitas air dan pengawetan sampel seperti: MnSO4, KI + KOH, H2SO4, Na2S2O3, Alkohol dan Amilum.

3.3. Metoda Pengumpulan Data
Berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai dan metoda penelitian yang digunakan yaitu dengan cara observasi langsung dilapangan untuk data primer dan pemeriksaan di laboratorium, sedangkan data sekunder dilakukan dengan cara wawancara dan menggunakan data dari instansi terkait.
Metode penentuan stasiun pengambilan sampel air dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu penentuan stasiun pengamatan dilakukan berdasarkan tujuan dengan memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi dan keadaan tempat penelitian atau karateristik lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel air untuk pengukuran parameter fisik, dan kimia pada masing-masing tempat penelitian /stasiun. Adapun deskripsi masing-masing Stasiun adalah sebagai berikut :
1)Stasiun I
Stasiun I Desa Tebat berada di bagian Hulu Sungai Batang Bungo kira –kira 1 km dari Air Sungai yang belum banyak tercemar ( PETI  dan Penambangan pasir). Di lokasi ini kualitas air masih dalam kondisi normal belum terpengaruh kegiatan tersebut di atas dan akan digunakan sebagai pembanding dengan Stasiun yang lain.
2).Satsiun II
Stasiun II  Desa Tanjung Agung berada di Sungai Batang Bungo  yang pertama dicemari. Di lokasi ini kualitas air tidak dalam kondisi normal atau diduga telah mengalami penurunan mutu air.
3).Stasiun III
Stasiun III Kelurahan Sungai Pinang berada di tengah daerah penelitian dimana terdapat air masuk dari anak sungai Batang Kenalu yang diduga membawa bahan koloid
4).Stasiun IV
Stasiun IV Kelurahan Tanjnung Gedang berada pada bagian Hilir Sungai Batang Bungo, dimana dilokasi ini merupakan pangkal Sungai Batang Bungo Di lokasi ini merupakan lokasi yang berdekatan dengan pertemuan anatara Sungai Batang Bungo dengan Sungai Induknya yaitu Sungai Batang Tebo atau sering disebut Muara Sungai.
3.4. Cara Pelaksanaan Pengambilan Sampel Air
3.4.1. Level Pengambilan Sampel Air
Pengambilan kedalaman sampel air ditentukan berdasarkan besarnya debit air sungai. Menurut Standar Nasional Indonesia Bidang Kualitas Air, 1990 dalam Siradz, A.S et al, 2008 bahwa debit air sungai diukur dengan menggunakan alat Current Meter. Dari hasil pengukuran nilai debit air maka dapat ditentukan kedalaman pengambilan sampelnya. Jika debit air      <150 m3/detik maka sampel air diambil 0,5 x kedalaman sungai, tetapi jika debit air > 150 m3/detik maka sampel air dapat diambil pada   0,2 x kedalaman sungai diukur dari permukaan sungai.

3.4.2. Pemeriksaan di Lapangan
Pemeriksaan atau pengukuran  langsung di lapangan meliputi unsur-unsur yang dapat berubah dengan cepat, dilakukan langsung dilapangan setelah pengambilan sampel air. Unsur-unsur tersebut antara lain ; suhu, pH, warna air, dan kecerahan ( LPPM Bung Hatta, 2009) .
3.4.3.Pemeriksaan di Laboratorium
Adapun  sampel air yang diperiksa di laboratorium antara lain untuk parameter :
1).Kelarutan oksigen (DO), 2). BOD5, 3).COD (Chemical Oxygen Demand), 4). Kandungan Nitrat (         ),  
3.5.Pengambilan Sampel Ikan
Sampel ikan dari setiap stasiun ditangkap dengan menggunakan beberapa jenis alat tangkap antara lain:  jaring, jala  dan pancing.  Jaring yang digunakan mempunyai ukuran, panjang 50 meter, lebar 1 meter dengan ukuran mata jaring yang berbeda yaitu ¾, 1 dan 3 inchi. Pada bagian atas jaring (tali ris atas) terdapat pelampung sebanyak 1 buah tiap meternya, sedangkan pada bagian bawahnya (tali ris bawah) dikaitkan dengan pemberat sebanyak 4 buah tiap meternya. Pelampung dan pemberat berguna untuk menegakkan posisi jaring selama di dalam air agar tidak terbawa arus atau gelombang. Pemasangan jaring dilakukan selama 1 malam pada setiap stasiun.
Alat tangkap jala yang digunakan berukuran 1,75 inchi, panjang 3 m dengan cara menebarkan pada setiap stasiun selama 3 jam dan pancing dipasang sebanyak 50 buah dan dipasang selama 1 malam. Cara penangkapan sampel ikan dilakukan dengan perlakukan alat tangkap dan lama waktu yang sama untuk setiap stasiunnya dan pengambilan dilakukan 1 kali pada musim kemarau dan 1 kali pada musim hujan. 
Sampel ikan yang diperoleh dikelompokkan berdasar ciri-ciri morfologi yang sama dan dihitung jumlah dari masing-masing jenis. Tiap jenis diambil beberapa ekor sebagai sampel dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diisi formalin 4% sebagai pengawet selanjutnya dimasukkan ke dalam botol koleksi lalu diberi label ( Saanin, 1989 ). Selanjutnya sampel dibawa ke Laboratorium untuk diamati dan diidentifikasi dengan buku acuan menurut Saanin 1986. Pengambilan sampel ikan dilakukan 2 kali yaitu musim kemarau dan musim hujan.
3.6.Metoda Analisis Data
Untuk menganalisis data yang diperoleh dari dilapangan digunakan beberapa metoda analisis. Metoda analisis tersebut adalah sebagai berikut:

3.6.1.            Analisis Indeks Keanekaragaman Jenis Ikan (H1)
Analisis data mencakup indeks keanekaragaman jenis  ikan menurut Shannon dalam Bengen,2000,  dilambangkan dengan  (H1) yang dibatasi sebagai :
         I                                 i
H= - ∑      ni   Logni       =  - ∑ ( p1 Log2 p1 )  ...............................(1)
        i-1     N           N        i-1    

s menunjukan banyaknya species yang di amati. Oleh karena Log2  atau 2Log atau Logaritma dengan dasar bikangan 2 dari suatu ekspresi numeric  dapat dinyatakan sebagai 2 Log x , maka 2 Log x dapat dinyatakan kembali menjadi ( log x / log 2) = 3,32 log x, sedangkan log menunjukan logaritma  dengan bilangan dasar 10. Dengan demikian Indeks Shannon dapat ditulis kembali menjadi :
                                
H = 3,32 ( log N -1 ∑ nlog n)
                                N

dengan ragam
                 pi (log2 pi )2   -  (∑pi log2  pi)2                   s-1
Var H=                                                                 +             + …
                                          N                                        2N2
Untuk menguji hipotesis H0 : Hi1 Hi, perbedaan antar contoh digunakan uji t dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
                            Hi1  -   Hi
t  =
        √  Var Hi+  Var   Hi2                         .................................(2)

                                                 (Var Hi+  Var   Hi2  )
dengan derajat bebas ( db)  =
                                         (Var Hi1  )2 / N1 + (Var   Hi2 )2 /N2


3.6.2.            Analisis Indeks Keseragaman/Regularitas/Equitabilitas (E)
Equitabilitas adalah penyebaran individu antar species yang berbeda dan diperoleh dari hubungan antara keanekaragaman (H1) dengan keanekaragaman maksimalnya ( Bengen, 2000).
  H1                              H1
E =                  =                 .................................................................(4)
                              H1 max                     Log 2 s










                                            1                                              
             Karena,  H1 max   = - ∑     - 1  Log2 1     = - s     1 Log2 1      = Log2 s
                                                 i=1     s          s                  s           s
Dimana :
Hi            = Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner
H max     = Keanekaragaman species maksimum
S             = Jumlah Species

Nilai E berkisar antara 0 - 1
Semakin  kecil  nilai  E,  maka  semakin  kecil  keseragaman  suatu  populasi, sebaliknya semakin besar nilai E, maka populasi akan menunjukkan keseragaman ( Krebs, 1985 ).

3.6.3.            Analisis Indeks Keragaman Simpson ( D )

Indeks ini digunakan untuk menentukan kualitas perairan yang jumlah jenisnya banyak atau dengan keragaman jenisnya tinggi ( Koesoebiono,1987 dalam Ferianita Fachrul, 2008 )

                          s    ( n1 )2                                                           
             D    =  ∑     ______
                           i        N2                  …………………………………………..…(5)

Resiprok Indeks Keragaman Simpson ( Koesoebiono,1987 )


                                  s    ( n1 )2                                                           
             ( 1 – D )    =  ∑  ______
                                   i        N2                 
Dengan ::
N = Jumlah Total individu
 n = Jumlah individu masing-masing jenis




3.6.4.            Analisis Indeks Kesamaan ( IS)
                             2c
IS  = _______   x 100 % ..............................................................(6)
                           a + b

Dimana :
a = Jumlah species pada Stasiun A
b = Jumlah species pada Stasiun B
c = Jumlah Species  yang sama pada Stasiun A dan B

IS = 75 – 100 %      =  Sangat Mirip
        50 -   75 %      =  Mirip
        25 -    50 %     =  Tidak Mirip
         < 25 %           =  Sangat Tidak Mirip ( Michael, P, 1994 )


3.6.5.      Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif dan Frekuensi Kehadiran

Dalam Michael, P, 1994 disebutkan bahwa untuk menghitung Kepadatan Populasi (KP), Kepadatan Relatif (KR)  dan Frekuensi Kehadiran (FK) menggunakan  persamaan sebagai berikut :
a. Kepadatan Populasi (KP)
                               Jumlah Individu Suatu jenis
KP (indv/m2) = _________________________   ……………(7)

                                  Luas Area / Plot

b. Kepadatan Relatif (KR) 
                           Kepadatan Suatu Jenis
 KR ( % )   =  _________________________   X  100 % …..(8)

                     Jumlah Kepadatan Seluruh Jenis

c. Frekuensi Kehadiran (FK)
                        Jumlah Plot yang ditempati Suatu Jenis
FK            =  _________________________________ X  100 %

                                   Jumlah Total plot             ......................(9).
Di mana:                                     
FK      = 0   -   25%        : Kehadiran sangat jarang
FK      = 25 50%         : Kehadiran jarang
FK      = 50 75%         : Kehadiran sedang
FK      > 75%                  : Kehadiran sering/absolut


3.6.6.      Analisis Korelasi Pearson
Korelasi merupakan teknik analisis yang  termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi / hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi mengenakan nilai numerik untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau kekuatan hubungan antara variabel. Dua variabel dikatakan berasosiasi jika perilaku variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua variabel tersebut disebut independen.
Korelasi Pearson adalah suatu bentuk rumus yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas atau independent variable dan variabel terikat atau dependent variable. Di mana umumnya variabel terikat diberi notasi Y dan variabel bebas diberi notasi X, di mana variabel bebas ini merupakan pemberian dari hasil suatu pengamatan sehingga variabel bebas tersebut tidak lagi Random atau acak.
Dalam hal ini Analisis  Korelasi  Pearson  digunakan  untuk  mengetahui  keberartian  hubungan antara  indeks keanekaragaman jenis ikan  yang terdapat di lokasi penelitian  Sungai Batang Bungo dengan parameter  fisika kimia perairan. Adapun persamaanya sebagai berikut:
          
Keterangan  :
  r :  Korelasi antar indeks keanekaragaman jenis ikan  dengan parameter  fisika kimia perairan
 X :  Parameter kualitas air
 Y :  Parameter indeks keanekaragaman jenis ikan  (Hi)


4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keanekaragaman Jenis Ikan Hasil Penelitian
Hasil tangkapan selama penelitian  pada 4 stasiun,  baik musim hujan maupun musim kemarau  ditemukan sebanyak 25 jenis ikan dari  16 genus dan 9 famili, seperti tersaji Tabel 4.1. di bawah ini.  Sedangkan menurut hasil wawancara langsung dengan petani/nelayan pada masing-masing Stasiun di Sungai Batang Bungo ternyata selama dalam 2010 telah ditemukan atau tertangkap nelayan sebanyak  58 jenis ikan  atau 43,1 % ( Lampiran...).
Selanjutnya bila dibandingkan dengan hasil inventarisasi jenis-jenis ikan Perairan Propinsi di Jambi ( Sudrajat, A. et al, 2009 ) ditemukan sebanyak 131 jenis ikan, 25 Famili, 14 Ordo,  maka hasil tangkapan selama penelitian ini baru 19,08 % dari yang jenis ikan yang tercatat di perairan Jambi. Adapun 25 jenis ikan tersebut dapat dideskripsikan sebagai dalam Lampiran 4 dan 5.
 Secara umum keanekaragaman jenis ikan pada lokasi penelitian relatif rendah jika dibandingkan dengan jenis ikan yang ada di  perairan Propinsi Jambi sebanyak  131 Jenis. Masih sedikitnya jumlah jenis hasil tangkapan selama penelitian ini karena waktu atau musim, jenis alat tangkap, luas area dan daerah penangkapan sangat terbatas
Menurut Watoon, 1991, bahwa keanekaragaman jenis ikan sungai tergantung pada dua faktor. Pertama, peningkatan jumlah mikro habitat akan dapat meningkatkan keragaman. Kedua, area yang lebih luas sering memiliki variasi habitat yang lebih besar dibanding dengan area yang lebih sempit.
Tabel 4.1. Keanekaragaman jenis ikan yang berhasil ditangkap dan taksonominya Di Stasiun Sungai Batang Bungo Kabupaten Bungo
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
Nama Lokal
 Chordata













Pisces













Ostariophysi

Bragiidae

Mystus
Mystus nemurus (Weber & Beaufort,1913)
Baung
Mystus sp
Baung Akar
Mystus wyckii (Blkr)
Baung Murai
Mystus sp
Tampang Durian
Mystus microcanthus (Weber & Beaufort,1913)
Sengiring'
Bagrichthys
Bagrichthys hypselopterus (Weber & Beaufort,1913)
Sengingih/Layang-layang






Nandidae
Nandus
Nandus nandus(Nandus nebulosus (Weber & Beaufort,1922))
Beterung






Gobiidae
Oxyeleotris
Oxyeleotris marmorata (Kauman, 1953)
Betutu






Channidae
Channa
Channa striata (Weber & Beaufort,1922)
Gabus





 Ostariophysi
Pangasidae
Pangasius
Pangasius polyuranodon (Weber & Beaufort,1913)
Juaro






Siluridae
Kryptopterus
Kryptopterus macrocephalus (Blkr)
Lais





 Cypriniformes
Cyprinidae
Dangila
Dangila ocellata (Weber & Beaufort,1916)
Malis/Lambak muncung
Barbicthys
Barbicthys laevis (Weber & Beaufort,1916;Kottelat,1984b)
Mentulu
Osteochillus
Osteochillus hasselti (C.V)
Palau
Chela
Chela laubuca (Hamilton-Buchanan,1822))
Perut-perut
Chela oxygastroides (Howes,1979)
Pimping
Puntius
Puntius tawarensis (Weber & Beaufort,1916)
Kepras/Kepang
Puntius schwanefeldi (Blkr)
Lampam
Rasbora
Rasbora pauciperforata (Weber & Beaufort,1916)
Seluang
Rasbora argyrotaenia (Bleeker,19850)
Masai
Rasbora sp
Batu/Seluang barau
Chrossochheilus
Chrossochheilus gnathopogon (Weber & Beaufort,1916)
Semuruk





 Opisthomi
Mastacembelidae
Mastacembelus
Mastacembelus erythrotaenia (de Beaufort&Brigg,1962)
Tilan
 Cypriniformes
 Mastacembelus sp
 Tampang Ayam






Cynoglossidae 
 Cynoglossus
 Cynoglossus
Lidah-lidah/mata sebelah
 JUMLAH

9
16
25

Sumber : Data primer diambil bulan Oktober 2010 dan Januari 2011
4.2. Nilai Keanekaragaman Jenis Ikan ( Hi )
Nilai indeks Keanekaragaman Jenis Ikan ( Hi )  yang tertangkap selama penelitian  di empat Stasiun di Sungai Batang Bungo berdasarkan  Indek Shannon dapat dilihat pada Tabel 4.2. berikut ini.
Tabel 4.2. Nilai Keanekaragaman Jenis Ikan ( Hi )  yang tertangkap selama penelitian  di empat Stasiun Penelitian di Sungai Batang Bungo.

No
Musim
Nilai Indek Keanekaragaman ( Hi )
ST I
Tebat
ST II
Tanjung Agung
ST III
Sungai Pinang
ST IV
Tanjung Gedang
1.

Keanekaragaman
Musim Kemarau

1.899
1.380
0.578
1.053
2.

Keanekaragaman
Musim Hujan

1.757
1.281
0.321
1.326
Sumber : Data primer diambil bulan Oktober 2010 dan Januari 2011
Berdasarkan hasil perhitungan nilai Indeks Keanekaragaman pada tabel tersebut di atas, bahwa kisaran nilai Indeks Keanekaragaman  yaitu 0,321 – 1,899 dimana Indek tertinggi ditemui pada Stasiun I  Desa Tebat pada pada musim kemarau sebesar 1,899, sedangkan nilai indek terendah terdapat pada musim hujan Stasiun III sebesar 0,321. Lebih tingginya nilai indek keanekaragaman pada Stasiun I karena lokasi ini masih belum banyak terpengaruh aktivitas penambangan emas (PETI) dan penambangan pasir. Sedangkan Stasiun II, III dan IV perairan tersebut sudah dipoengaruhi aktivitas peambangan emas dan pasir. Pada Stasiun III Kelurahan Sungai Pinang baik musim kemarau maupun musim hujan nilai Indek Keanekaragaman terlihat sangat rendah, hal ini menunjukkan lokasi tersebut sangat ipengaruhi oleh aktivitas penambangan emas dan pasir, dimana pada bagian hulu Stasiun III (diantara Stasiun II dan III) terdapat 108 unit PETI dan 3 unit eskavator penambang pasir. Dengan adanya aktivitas tersebut nilai beberapa parameter kualitas air terutama : TSS , NO2 dan kecerahan  sangat tinggi dibanding dengan Stasiun lain
Selanjutnya hubungan nilai Indeks Keanekaragaman dengan kriteria kualitas air menurut Lee, dkk, 1975 dalam Ferianita Fachrul, 2008 bahwa, nilai Indek Keanekaragaman (Hi) hasil penelitian pada Stasiun I – IV dapat dikategorikan sebagaimana Tabel 4.3. berikut ini:
Tabel 4.3. Hubungan  Indeks Keanekaragaman Ikan di Stasiun Penelitian dengan kriteria kualitas air menurut Lee, dkk, 1975 dalam Ferianita Fachrul, 2008.

No
Stasiun
(Hi)
Kualitas perairan
1.
2.
3.
4.
ST I, Desa Tebat
St II , Ds. Tanjung Agung
ST III, Kel. Sungai Pinang
ST IV, Kel. Tanjung Gedang
1.757 - 1.899
1.281 - 1.380
0.321 - 0.578
1.053 - 1.326
Tercemar Ringan
Tercemar Sedang
Tercemar Berat
Tercemar Sedang
Sumber: Data primer diolah bulan Oktober 2010 dan Januari 2011menurut Lee, dkk, 1975 dalam Ferianita Fachrul, 2008.
Menurut Shannon Weiner dalam Ferianita Fachrul, 2008, bahwa komponen lingkungan, baik yang hidup (biotik) maupun yang mati (abiotik) akan mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman biota air yang ada pada suatu perairan. Perairan yang berkualitas baik biasanya memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dan sebaliknya pada perairan yang buruk atau tercemar keanekaragaman jenis yang rendah.
Selanjutnya untuk menguji hipotesis H0 : Hi1 =  Hi, perbedaan antar contoh digunakan uji t. Hasil perhitungan Varian H11 = 0.00433 dan H12 = 0.002992 dan t hitung = 0.015635. Kemudian t hitung dibandingkan dengan t tabel (0,05%) sebesar 1,645, yang berarti t hitung lebih kecil dari t tabel. Dengan demikian H0 gagal ditolak atau tidak ada perbedaan nyata antar H11 dan  H12.

4.8. Nilai Keseragaman (E)
Nilai indeks Keseragaman atau Equitabilitas ( E )  ikan yang tertangkap selama penelitian  di empat Stasiun di Sungai Batang Bungo berdasarkan  Krebs, 1985 dalam  Bengen, 2000 dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.
Tabel 4.4. Nilai Keseragaman atau Equitabilitas ( E ) yang Tertangkap di empat Stasiun Penelitian di Sungai Batang Bungo.


No
Musim
Nilai Keseragaman atau Equitabilitas ( E )
ST I
Tebat
ST II
Tanjung Agung
ST III
Sungai Pinang
ST IV
Tanjung Gedang
1.
Keseragaman
Musim Kemarau
0.433
0.314
0.132
0.239
2.
Keseragaman
Musim Hujan
0.388
0.283
0.071
0.293
Sumber: Data primer bulan Oktober 2010 dan Januari 2011diolah menurut Bengen 2000.

Berdasarkan hasil perhitungan Nilai Indeks Keseragaman atau Equitabilitas ( E )  ST I – IV pada Tabel tersebut di atas, maka nilai (E)  dengan kisaran 0.071   -  0.433. Pada  Stasiun I  Desa Tebat terlihat lebih tinggi dengan 3 stasiun lainnya. Dengan demikian  Stasiun I Tebat memiliki keseragaman populasi yang tinggi dibanding stasiun lainya. Menurut  Krebs, 1985 dalam  Bengen, 2000,  disebutkan bahwa semakin  kecil  nilai  E,  maka  semakin  kecil  keseragaman  suatu  populasi, sebaliknya semakin besar nilai E, maka populasi akan menunjukkan keseragaman

4.9. Nilai Indeks Keragaman Simpson ( D )
Nilai indeks Keragaman Simpson ( D ) ikan yang tertangkap selama penelitian  pada StasiunI -IV di Sungai Batang Bungo dapat dilihat pada Tabel 4.4. Indeks Keseragman Simposon ( D ) ini digunakan untuk menentukan kualitas perairan yang jumlah jenisnya banyak atau dengan keragaman jenisnya tinggi (Koesoebiono,1987 dalam  Ferianita Fachrul, 2008).
Tabel 4.4.   Nilai Keragaman Simpson ( D ) yang Tertangkap Selama Penelitian  pada Stasiun Penelitian di Sungai Batang Bungo.

No
Musim
Nilai Keragaman Smpson (D)
ST I
Tebat
ST II
Tanjung Agung
ST III
Sungai Pinang
ST IV
Tanjung Gedang
1.
Keragaman
Musim Kemarau
0.0232
0.0160
0.0017
0.0031
2.
Keragaman
Musim Hujan
0.0172
0.0293
0.0007
0.0078
Sumber: Data primer diolah bulan Oktober 2010 dan Januari 2011

Selanjutnya bila Nilai Indeks Keragaman Simpson ( D ) dari data tersebut di atas dikaitkan dengan tingkat pencemaran perairan (Tabel 3.5.), maka dapat diperoleh klasifikasi masing-masing stasiun sebagai mana Tabel 4.5. di bawah ini.
Tabel 4.5.Hubungan  Indeks Keragaman Simpson ( D ) Stasiun Penelitian dengan kriteria kualitas air menurut Odum, 1971 dalam Ferianita Fachrul, 2008.
No
Stasiun
Indeks Keragaman Simpson ( D )
Kualitas Perairan
1.
2.
3.
4.
ST I, Desa Tebat
St II , Ds. Tanjung Agung
ST III, Kel. Sungai Pinang
ST IV, Kel. Tanjung Gedang
0.0172 - 0.0232
0.0160 - 0.0293
0.0007- 0.0017
0.0031 - 0.0078
Tercemar Berat
Tercemar Berat
Tercemar Berat
Tercemar Berat
Sumber: Data primer diolah bulan Oktober 2010 dan Januari 2011 menurut Lee, dkk, 1975 dalam Ferianita Fachrul, 2008.


4.10. Nilai Kesamaan (IS)
Nilai Indeks Kesamaan ( IS ) dari ikan yang tertangkap selama penelitian  pada Stasiun I -IV di Sungai Batang Bungo dapat dilihat pada Tabel 4.6. dan Tabel 4.7.  berikut ini
Tabel 4.6. Nilai Indeks Kesamaan ( IS ) antar  Stasiun Penelitian pada Musim Kemarau

IS (%)
ST I
Tebat
ST II
Tanjung Agung
ST III
Sungai Pinang
ST IV
Tanjung Gedang
Stasiun 1
-
69,56
50,00
58,33
Stasiun 2
-
-
58,82
66,66
Stasiun 3
-
-
-
44,44
Stasiun 4
-
-
-
-

Sumber: Data primer diolah bulan Oktober 2010 dan Januari 2011


Tabel 4.7. Nilai Indeks Kesamaan  ( IS ) antar  Stasiun Penelitian pada Musim Hujan

IS (%)
ST I
Tebat
ST II
Tanjung Agung
ST III
Sungai Pinang
ST IV
Tanjung Gedang
Stasiun 1
-
58,33
23,53
56,00
Stasiun 2
-
-
13,33
52,17
Stasiun 3
-
-
-
25,00
Stasiun 4
-
-
-
-
Sumber: Data primer diolah bulan Oktober 2010 dan Januari 2011
Menurut Michael, P, 1994 bahwa nilai Indeks Kesamaan  (IS)   antara 75 – 100 % dikategorikan  Sangat Mirip, 50 -   75 %  dikategorikan  Mirip, 25 -    50 % dikategorikan  Tidak Mirip dan  < 25 %  dikategorikan Sangat Tidak Mirip. Dari nilai Indeks Kesamaan ( IS )  tidak ditemukan spesies yang Sangat Mirip antar Stasiun. Rata-rata nilai Indeks Kesamaan ( IS ) antar stasiun Mirip dan Tidak Mirip kecuali kategori  Sangat Tidak Mirip pada musim hujan  yaitu antara Stasiun I dengan III, Stasiun II dengan III serta Stasiun III dengan IV.
 Secara umum antar Stasiun tidak ditemukan sebaran spesies  yang sangat mirip. Hal ini sesuai dengan pendapat Ross, 1997 dalam Siagian, 2009, bahwa   keanekaragaman dan kelimpahan ikan ditentukan oleh karakteristik habitat perairan. Karakteristik habitat di sungai sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai. Kecepatan aliran tersebut ditentukan oleh perbedaan kemiringan sungai, keberadaan hutan atau tumbuhan di sepanjang daerah aliran sungai yang akan berasosiasi dengan keberadaan hewan-hewan penghuninya.

4.11. Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif, dan Frekuensi Kehadiran
     Berdasarkan hasil sampel ikan tertangkap dapat disajikan pada Rekap hasil perhitungan Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif, dan Frekuensi Kehadiran pada Musim Kemarau dan Musim hujan pada  Tabel 4.8. berikut ini.
Tabel 4.8.  Rekap Hasil Perhitungan Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif, dan Frekuensi Kehadiran pada Musim Kemarau dan Musim Hujan.
Jenis Ikan
(Nama Lokal)
Musim kemarau
Nusim hujan
Ket
KP
KR %
FK %
KP
KR %
FK %
Batu
0.000400
0.917431
25
0.000200
0.64935
25

Baung
0.002200
5.045872
100
0.002000
6.49351
75

Baung Akar
0
0
0
0.000200
0.64935
25

Baung Murai
0
0
0
0.000200
0.64935
25

Beterung
0.000200
0.458716
25
0.000200
0.64935
25

Betutu
0.000200
0.458716
25
0
0
0

Gabus
0.000400
0.917431
25
0.000400
1.29870
25

Juaro
0.000400
0.917431
25
00

0

Kepang
0.001600
3.669725
50
0.000800
2.59740
50

Lais
0.001200
2.752294
50
0.001200
3.89610
50

Lampam
0.007400
16.97248
100
0.003200
10.38961
75

Lidah-lidah
0
0
0
0.000200
0.64935
25

Malis
0.007600
17.43119
100
0.006600
21.42857
75

Masai
0.004400
10.09174
100
0.002400
7.79221
75

Mentulu
0.000800
1.834862
50
0.000400
1.29870
50

Palau
0.003600
8.256881
75
0.002400
7.79221
100

Perut-perut
0.000600
1.376147
25
0.000800
2.59740
25

Pimping
0.005200
11.92661
75
0.003600
11.68831
75

Seluang
0.000800
1.834862
25
0.001600
5.19481
25

Semuruk
0.000600
1.376147
25
0.000800
2.59740
25

Sengingih
0.001000
2.293578
25
0.000400
1.29870
25

Sengiring'
0.004600
10.55046
75
0.002200
7.14286
50

Tampang Ayam
0.000400
0.917431
25
0.000600
1.94805
25

Tampang Durian
0
0
0
0.000200
0.64935
25

Tilan
0
00

0.000200
0.64935
25

Jumlah
0.0436
100.00

0.030800
100.00


Sumber: Data primer diolah bulan Oktober 2010 dan Januari 2011

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa Kepadatan Populasi, Kepadatan Relatif, dan Frekuensi Kepadatan Populasi tertinggi ditemukan pada jenis ikan Malis (Dangila ocellata, Weber & Beaufort,1916) dalam musim kemarau sebesar 0.007600 individu / m2. Hal ini diduga bahwa ikan Malis sedang mangalami peningkatan populasi, dimana pada saat itu akan berlangsung musim pemijahan karena waktu musim kemarau hampir habis, pada umumnya ikan diperairan umum mmijah pada awal musim hujan. Sebaliknya untuk Kepadatan Populasi terendah ditemukan beberapa jenis ikan yaitu : Beterung (Nandus nebulosus, Weber & Beaufort,1922), Betutu (Oxyeleotris marmorata, Kauman, 1953) ,  Tampang Durian (Mystus sp), dan Tilan (Mastacembelus erythrotaenia, de Beaufort&Brigg,1962) masing-masing sebesar 0, 0002 individu /m2. Rendahnya Kepadatan Populasi ketiga jenis ikan tersebut diduga disebabkan ketidak mampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan yang sudah mulai tercemar atau loakasi penelitian kurang sesuai dengan habitat mikronya.
Untuk Kepadatan relatif paling tinggi ditemukan pada Ikan  Malis (Dangila ocellata, Weber & Beaufort,1916) dalam musim hujan sebesar 21,42857  %. Sedangkan Kepadatan relatif terendah ditemukan pada Ikan Beterung (Nandus nebulosus, Weber & Beaufort,1922) dan Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata, Kauman, 1953) masing–masing sebesar 0,4587 %.
Selanjutnya untuk Frekuensi kehadiran paling tinggi ditemukan pada jenis ikan Lampam (Puntius schwanefeldi (Blkr) pada musim hujan sebesar 21.42857 %. Pada saat itu ikan Lampan banyak ditemukan dalam ukuran relatif kecil atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai ikan Kapiat atau anak Ikan Lampam (Puntius schwanefeldi (Blkr).

4.12. Analisis Nilai Korelasi Pearson
 Hasil pengukuran parameter  fisika kimia perairan masing-masing stasiun dan nilai  indeks keanekaragaman jenis ikan  yang terdapat di lokasi penelitian  Sungai Batang Bungo dikorelasikan dengan metode Analisis  Korelasi  Pearson  menggunakan Software  SPSS Versi 14.00  maka diperoleh nilai korelasi ( r ) seperti tertera pada Tabel  4.9. di bawah ini. Hasil Perhitungan Korelasi Pearson dengan SPSS Versi 14.00.)
Tabel 4.9. Nilai Korelasi ( r ) Antara Fisika Kimia Perairan Dengan Nilai  Indeks Keanekaragaman Jenis Ikan  Yang Terdapat Di Lokasi Penelitian  Sungai Batang Bungo



Suhu
Kecerahan
TDS
TSS
pH
BOD
COD
DO
Amoniak (NH3-N )
Nitrat (NO3)
Nitrit ( NO2 )
Pb
Kesadahan
Alkalinitas
Hi
r
-0. 191
0. 713
0. 238
-0. 803
0. 880
-0. 030
-0. 121
-0. 562
-0. 328
-0. 171
-0. 450
0
0. 095
0. 256
Sumber : Data primer diolah (SPSS Versi 14.00)

Keterangan :
Nilai + = Arah korelasi searah
Nilai - =  Arah korelasi berlawanan arah

Hasil perhitungan analisis Korelasi Pearson antara beberapa faktor fisik dan kimia perairan berbeda tingkat korelasi dan arah korelasinya dengan indeks keanekaragaman. Nilai (+) menunjukkan hubungan yang searah antara nilai faktor fisik dan kimia maka nilai indeks keanekaragaman akan semakin  besar  pula,  sedangkan  nilai   negatif  (-)  menunjukan  hubungan  yang berbanding  terbalik  antara  nilai  faktor fisik dan kimia perairan  dengan  nilai indeks  keanekaragaman  (Hí),  artinya  semakin  besar nilai  faktor  fisik  dan kimia perairan  maka  nilai   akan  semakin  kecil,  begitu  juga  sebaliknya,  jika semakin kecil nilai faktor fisik, kimia, dan biologi maka nilai Hí akan semakin besar. Dari hasil uji korelasi Pearson (r) antara faktor fisik dan kimia perairan dengan keanekaragaman  ikan (Hi)  dapat dilihat bahwa : Kecerahan, TDS, pH, Kesadahan dan Alkalinitas masing-masing sebesar:  0,713 ; 0,238; 0,880; 0,095 dan 0,256 memiliki hubungan korelasi positif dengan indeks keanekaragaman ikan. Artinya bahwa semakin besar nilai faktor fisika dan kimia perairan maka nilai indeks keanekaragaman semakin kecil. Sedangkan untuk parameter: Suhu, TSS, BOD, COD, DO, NH3-N, NO3  dan NO2 dengan masing-masing : -0,191; -0,803; -0,030;  -0,121; -0,562; -0,328, -0,171 dan  -0,450  memiliki hubungan korelasi negatif dengan indeks keanekaragaman ikan, artinya bahwa semakin kecil nilai korelasi pearson ( r ) maka semakin kecil nilai faktor fisika dan kimia perairan maka nilai indeks keanekaragaman semakin besar.
Untuk parameter Timbal (Pb), nilai korelasi ( r ) sebesar 0. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Perlu diingat bahwa hubungan linier yang kuat di antara variabel tidak selalu berarti ada hubungan kausalitas, sebab-akibat. Dengan demikian, Korelasi hanya menjelaskan kekuatan hubungan tanpa memperhatikan hubungan kausalitas, mana yang dipengaruhi dan mana yang mempengaruhi. Berdasarkan interval koefisien korelasi dan tingkat hubungan antar faktor, menurut Sugiyono, 2005  seperti tertera pada Tabel 4.10. berikut ini.
Tabel  4.10. Interval Korelasi dan Tingkat Hubungan Antar Faktor
No
Interval Korelasi (r)
Tingkat hubungan
1.
2.
3.
4.
5.
0,000 - 0,199
0,200 – 0,399
0,400 – 0,599
0,600 – 0,799
0,800 – 1,000
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat
Sumber : Data primer diolah dan menurut Sugiyono, 2005
Nilai (r) Kecerahan  0,713 dan pH 0,880 memiliki tingkat hubungan (positif) Kuat dan Sangat Kuat  terhadap nilai Indeks Keanekaragaman Ikan Hi, demikian pula nilai (r)  TSS   -0,803 memiliki tingkat hubungan (negatif) sangat kuat dan DO  -0,562 memiliki tingkat hubungan (negatif) sedang.
DAFTAR PUSTAKA

Ardianor, 1999, Pengaruh Pemindahan massa Air Dasar ke Lapisan Permukaan dan Pemberian Kapur Terhadap Produktivitas Primer dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Sabuah. Tesis, Program Pascasarjana,  Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Indonesia.
Bengen,   2000, Teknik Pengambilan Contoh dan Analisa Data Biofisik Sumber Daya Pesisir, Sinopsis, Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB, Bogor, hal 26 – 29.
Boyd, Claude. E, 1982, Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Scientific – Amsterdam. Development in Aguaculture and Fisheries Science Vol. 9
BPS Kabupaten Bungo, 2008, Bungo Dalam Angka 2008, BPS Kabupaten Bungo.
Dahuri. R. 1995, Metode dan Pengukuran Kualitas Air, Aspek Biologi. IPB. Bogor.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bungo, 2009, Renstra Dinas Peternakan dan Perikanan (Revisi) 2009-2011. 
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bungo, 2009. Laporan Operasional Pengawasan Tahun 2009 Kegiatan Kelestarian Sumberdaya Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bungo, Muara Bungo.
Effendi, H. 2003, Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkung-an Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Ferianita Fachrul, 2008, Metode sampling bioekologi, Ed 1 Cet 2 Bumi Aksara, Jakarta 198 halaman
Marshall, N.B, 1982, Biology of Fishes. Chapman and Hall. New York
Michael,  P, 1994,  Metoda     Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium,  UI Pres Jakarta.
Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988, Fishes and Introduction to Ichtyology Prentice Hall Englewood Cliffs. New Jersey.
Saanin, H. 1986, Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta.
Saputra, FM, 2004. Daerah Aliran Sungai Batang Hari, Makalah-pdf Web: http://penataanruang.pu.go.id/ta/Lapak04/P3 DasBatangharAkhir.html disakses tanggal 24 November 2009, pukul 08.41 WIB.
Sudrajat, A, Darti Satiyani, Sudarto, Ketut Sugama dan Murniyati,  2009, Inventarisasi Keragaman Ikan lokal Air Tawar Provinsi Jambi, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Jambi, Cetakan ke 2, 81 pp.
Siagian, C, 2009, Keanekaragaman dan Kelimpahan Ikan serta Keterkaitannya dengan Kualitas Perairan di Danau Toba Balige Sumatera Utara, Tesis, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan,
Wooton, J, 1991,  Ecology of Teleost Fishes. New York: Chapman & Hall.
Yustina, 2001, Keaneka Ragaman Jenis Ikan Disepanjang Sungai Rangau , Riau, Sumatera, Journal Nature Indonesia 4(1):1-14(2001) ISSN 1410-9379. disakses tanggal 24 November 2009.





Lampiran
Peta Lokasi Stasiun Pengambilan Sampel Penelitian


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Muara Bungo, Jambi, Indonesia